Cheng Ge terbaring lemah, napasnya tersengal-sengal, tapi matanya masih mencari sesuatu—mungkin bayinya, mungkin harapan. Di sisi lain, ibunya menangis diam, memeluk bungkusan kecil itu seperti menyelamatkan jiwa. 💔
Mobil Mercedes melaju di malam salju, lampu depan menyilaukan. Cheng Fu turun dengan rambut berdebu salju, wajahnya tegang—seperti sedang datang bukan untuk menjenguk, tapi untuk menuntut jawaban. ❄️🚗
Xia Donghai vs Cheng Fu—dua pria, dua generasi, satu ruang sempit. Perawat berteriak, tangan gemetar, sementara poster 'Pelayanan Usus' jadi saksi bisu konflik keluarga yang meledak di Malam Tahun Baru Lagi. 📢
Selimut oranye itu jadi simbol: hangat, rapuh, dan penuh pertanyaan. Ibu tua memegangnya erat, bibirnya bergetar menyebut nama 'Cheng Ge'. Apakah ini akhir atau awal? 🍂👶
Matanya berkaca-kaca, suaranya serak, tapi ia tak menyerah. Di tengah teriakan Cheng Fu, ia hanya berbisik: 'Dia istriku.' Satu kalimat, ribuan emosi—Malam Tahun Baru Lagi benar-benar malam yang tak bisa dilupakan. 😢
Poster 'Pelayanan Usus' tergantung diam, sementara manusia berteriak, menangis, dan saling dorong di depannya. Ironis? Mungkin. Tapi itulah kehidupan—sering kali paling kacau terjadi di tempat paling steril. 🏥
Rambut abu-abu, mata membesar, tangannya menggenggam lengan Xia Donghai seperti ingin menghancurkan. Tapi di balik kemarahan, ada rasa bersalah yang tak terucap. Malam Tahun Baru Lagi, ia datang—tapi apakah masih ada waktu? ⏳
Cheng Ge tertidur, bayi dibawa pergi, dua pria masih berdiri saling menatap. Tidak ada kata damai, tidak ada pelukan. Hanya koridor panjang, lampu redup, dan pertanyaan: siapa yang akan menjaga mereka besok? 🌙
Langkah kaki Xia Donghai terdengar berat di koridor rumah sakit, seolah membawa beban seluruh keluarga. Sepatu militernya menginjak lantai dingin—detik-detik sebelum segalanya berubah. 🩺❄️