PreviousLater
Close

PDKT sama CEO Episode 45

2.7K5.8K

Persaingan dalam Proyek Litbang

Hadi mengusulkan agar dia menggantikan Lusi dalam mengawasi Divisi Litbang Obat, sementara Lusi hanya bertanggung jawab atas proyek Bakauni karena Johan yang mendapatkan proyek tersebut. Namun, Lusi menolak karena dia telah mengerjakan proyek itu dengan sepenuh hati.Akankah Lusi berhasil mempertahankan tanggung jawabnya atas proyek Litbang atau Hadi akan mengambil alih?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Lihat Selengkapnya

Tongkat Merah vs Dasi Emas: Pertarungan Generasi

Sang tua dengan tongkat merah bukan sekadar aksesori—itu simbol otoritas yang diam-diam menekan. Di seberangnya, sang muda dengan dasi hitam dan pin salib emas berusaha tampil tenang, namun keringat di dahinya mengkhianati. PDKT dengan CEO bukan soal cinta, melainkan pertempuran budaya, uang, dan harga diri. Setiap suap nasi terasa seperti langkah catur. ⚔️

Dia Tidak Makan, Tapi Menelan Semua Kata

Wanita dalam gaun hitam berbulu itu hampir tidak menyentuh makanan. Namun perhatikan matanya—ia menyerap setiap kalimat, setiap senyum, dan setiap tatapan tajam dari para pria di sekitarnya. Dalam PDKT dengan CEO, makan malam bukan tentang rasa, melainkan tentang siapa yang mampu bertahan paling lama tanpa berkedip. Ia bukan penonton. Ia adalah pemenang tersembunyi. 👁️

Gelas Berisi Minuman, Tapi Isinya adalah Tekanan

Setiap kali sang pria berdasi kuning mengangkat gelas, kita dapat merasakan beban di balik senyumannya. Gelas itu bukan untuk minum—melainkan alat defleksi. Saat ia tertawa, matanya tidak ikut serta. Dalam PDKT dengan CEO, alkohol tidak membuat orang mabuk, melainkan memudahkan kebohongan untuk ditelan. Dan kita semua tahu: yang paling mabuk justru adalah mereka yang pura-pura sadar. 🥃

Cahaya Lembut, Tapi Bayangannya Tajam

Latar restoran mewah dengan lampu hangat memberi ilusi kehangatan. Namun bayangan di wajah mereka—terutama saat sang tua menoleh—tajam seperti pisau. PDKT dengan CEO bukan drama romantis, melainkan thriller psikologis yang dibungkus sutra. Bahkan bunga tulip di tengah meja terlihat seperti saksi bisu yang kelak akan membocorkan semuanya. 🌷🔪

Chopstick yang Tak Pernah Menyentuh Makanan

Sang muda memegang chopstick seperti pedang, namun tak pernah menyentuh hidangan. Gerakannya terlalu halus, terlalu terkontrol—ini bukan makan, melainkan latihan bertahan hidup. Dalam PDKT dengan CEO, kesopanan adalah senjata paling mematikan. Dan kita tahu: orang yang paling tenang di meja, seringkali justru yang paling berbahaya. 🥢✨

Senyumnya Manis, Tapi Di Baliknya Ada Hitung-Hitungan

Senyum sang muda dalam PDKT dengan CEO terlalu sempurna—seolah dipelajari dari buku etika bisnis. Namun perhatikan jemarinya yang menggenggam meja, atau cara ia menatap wanita itu satu detik lebih lama dari seharusnya. Cinta? Mungkin saja. Namun lebih mungkin: ini adalah strategi jangka panjang. Di dunia ini, bahkan ciuman pun bisa dikalkulasikan. 💰💘

Meja Bundar, Tegangnya Sampai Nafas Terhenti

Di meja makan PDKT dengan CEO, setiap tatapan dan gerak jari bagaikan kode rahasia. Sang tua dengan tongkat merah itu diam-diam mengamati, sementara sang muda tersenyum lebar, namun matanya tetap waspada. Wanita di tengah? Ekspresinya berubah tiap detik—antara cinta, ketakutan, dan kebingungan. Makanan di depan mereka hanyalah hiasan; yang sebenarnya dikonsumsi adalah ketegangan. 🍜🔥