Konsep sistem yang mendeteksi emosi negatif penonton dan mengubahnya menjadi nilai adalah ide yang sangat segar. Layar hologram ungu yang muncul tiba-tiba memberikan nuansa futuristik di tengah latar fantasi. Bai Miao tampak tidak terganggu oleh kebencian orang lain, malah tersenyum puas saat nilai kejahatannya bertambah. Ini menunjukkan karakternya yang unik dan tidak konvensional. Penonton di tribun terlihat sangat emosional, menambah dramatisasi cerita dalam Semakin Dibenci, Semakin Hebat.
Transisi dari arena pertarungan ke ruang kelas yang megah dengan jendela kaca patri sangat halus. Suasana kelas A terasa sangat elit dan berbeda. Bai Miao duduk di meja kristal sambil membelai kucing hitam, menunjukkan statusnya sebagai ketua kelas yang dominan. Guru tua dengan tongkat sihir memberikan kesan bijaksana namun misterius. Interaksi antar siswa menunjukkan adanya persaingan dan aliansi. Detail seragam dan dekorasi kelas sangat indah, membuat dunia dalam Semakin Dibenci, Semakin Hebat terasa hidup.
Kucing hitam yang selalu bersama Bai Miao bukan sekadar hewan peliharaan biasa. Matanya yang bersinar dan kalung berbentuk berlian memberikan kesan bahwa ia memiliki kekuatan magis. Saat Bai Miao membelainya, kucing itu tampak sangat nyaman, menunjukkan ikatan batin yang kuat. Di satu adegan, kucing itu bahkan terlihat bingung dengan tanda tanya di atas kepalanya, menambah unsur komedi. Kehadiran kucing ini memberikan keseimbangan antara kesan dingin Bai Miao dan kehangatan. Karakter ini sangat menggemaskan dalam Semakin Dibenci, Semakin Hebat.
Munculnya babi kristal biru yang menari-nari dengan konfeti adalah momen yang sangat mengejutkan namun menghibur. Desain poligonalnya memberikan kesan modern dan unik. Babi ini muncul di layar sistem, seolah menjadi maskot atau asisten virtual. Gerakannya yang lincah dan ekspresinya yang ceria kontras dengan suasana serius di kelas. Momen ketika babi itu memakai mahkota emas menunjukkan status istimewanya. Elemen ini menambah warna dan keceriaan dalam cerita Semakin Dibenci, Semakin Hebat tanpa merusak alur utama.
Ekspresi penonton di tribun sangat beragam dan realistis. Ada yang terkejut, marah, kecewa, hingga bersorak sorai. Reaksi mereka terhadap hasil pertarungan menunjukkan betapa emosionalnya acara ini bagi mereka. Seorang siswa dengan rambut cokelat terlihat sangat frustrasi, sementara yang lain bertepuk tangan dengan antusias. Keragaman emosi ini membuat suasana arena terasa sangat hidup. Kamera yang menyorot wajah-wajah mereka memberikan dimensi tambahan pada cerita. Dalam Semakin Dibenci, Semakin Hebat, reaksi penonton menjadi cerminan dari tekanan sosial yang ada.