Surat Cinta yang Salah
Tujuh tahun lalu, sebuah surat cinta yang ditulis Vera menjadi awal segalanya. Di balik kesalahpahaman, tumbuh perasaan yang tak terucap. Namun cinta itu berakhir sebelum dimulai. Tujuh tahun kemudian, saat mereka kembali bertemu, hati yang lama terdiam mulai berdenyut lagi.
Rekomendasi untuk Anda




印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)
SMS yang Mengubah Segalanya
09:27. Pesan 'Maaf, terlambat' muncul di layar ponsel Vera—detik yang menghentikan waktu. Di kuil, Marco berdoa dengan serius, sementara masa lalu mereka (seragam SMA, kelas matematika) melayang seperti asap dupa. Cinta itu seperti dupa: indah, tetapi cepat memudar jika tidak dijaga. 🔥
Dua Dunia, Satu Tangga
Tangga naga di depan Mahavira Hall menjadi metafora sempurna: Vera di sebelah kiri (masa kini, dewasa), Marco di sebelah kanan (masa lalu, remaja). Mereka berjalan berlawanan arah, lalu berhenti—tatapan pertama setelah bertahun-tahun. Surat Cinta yang Salah ternyata bukan karena alamat yang salah, melainkan karena kurang berani mengirimkannya. 💔
Guru vs CEO: Siapa yang Lebih Takut?
Vera, dosen universitas, berdiri tegak dengan kacamata tipis—namun tangannya gemetar saat memegang ponsel. Marco, CEO Grup Cakra, berdoa di altar dengan tenang, meskipun hatinya berdebar kencang. Mereka sama-sama takut: satu takut kehilangan masa lalu, satu takut kehilangan kesempatan kedua. 📜
Seragam SMA yang Tak Pernah Luntur
Flashback ke tahun 2018: lari di lintasan, papan pengumuman '60 hari lagi', dan gambar bunga di kertas ujian. Vera dulu menyembunyikan surat cinta di balik buku matematika. Sekarang, di kuil, Marco menatapnya—seolah masih di kelas 12. Surat Cinta yang Salah akhirnya sampai, tepat pada detik yang paling sakral. 🌸
Kuil yang Menyimpan Kenangan
Atap keramik kuning-abu di Kuil Telaga menjadi latar nostalgia. Vera dan Marco berdiri di tangga naga, diam—namun mata mereka berbicara lebih keras daripada doa. Surat Cinta yang Salah bukan hanya tentang alamat yang salah, tetapi juga waktu yang salah, kesempatan yang salah. 🕊️