Melihat Luqman dipaksa melutut dan dihina seperti anjing membuat saya geram. Dia terlalu baik untuk orang-orang di sekitarnya. Dalam cerita Kita Pernah Jadi Sekeluarga, ketulusan Luqman malah menjadi kelemahannya. Aini memanfaatkan itu dengan sadis. Tapi saya yakin, di balik air mata dan darah di kepala Luqman, ada kekuatan yang sedang bangkit. Tunggu saja babak balas dendamnya!
Jangan cepat menghakimi Aini sebagai penjahat murni. Dalam adegan Kita Pernah Jadi Sekeluarga ini, terlihat jelas bahawa kemarahannya berasal dari luka masa lalu. Dia menyebut ibu Luqman yang selalu menghubungi, dan itu mengganggunya. Mungkin dia merasa diabaikan atau dikhianati. Tindakannya menghancurkan jam poket adalah puncak dari kekecewaan bertahun-tahun. Kompleksiti wataknya membuat drama ini semakin menarik.
Ketika jam poket itu jatuh dan pecah berkeping-keping, rasanya ikut hancur. Itu adalah simbol terakhir hubungan Luqman dengan ibunya. Dalam siri Kita Pernah Jadi Sekeluarga, adegan ini dibina dengan sangat intens. Ekspresi Luqman yang berubah dari pasrah menjadi marah lalu hancur lebur benar-benar memukau. Aini tertawa, tapi matanya juga menyimpan air mata. Konflik batin keduanya terasa sangat nyata.
Aini benar-benar melampaui batas ketika menghina Luqman dan menghancurkan kenangan terakhirnya. Dalam alur cerita Kita Pernah Jadi Sekeluarga, tindakan ini bukan lagi soal cinta atau benci, tapi sudah menjadi obsesi untuk menghancurkan. Luqman yang terluka di kepala dan hati menunjukkan betapa kejamnya permainan ini. Namun, kehadiran tokoh lain di akhir memberi harapan bahawa keadilan akan segera datang.
Jam poket itu adalah jambatan antara Luqman dan ibunya yang sudah tiada. Ketika Aini menghancurkannya, seolah dia menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan Luqman. Dalam drama Kita Pernah Jadi Sekeluarga, adegan kilasan balik ketika ibu memberikan jam itu sangat menyentuh. Pesan ibunya agar jam itu menjadi teman saat dia tiada, kini menjadi ironi yang menyakitkan. Luqman kehilangan segalanya dalam satu saat.