Adegan saat kantong berisi batu bata jatuh benar-benar menyayat hati. Penjualan itu tertawa sementara istri hanya bisa menangis menahan malu. Suaminya tetap tegar meski dihina habis-habisan. Cerita dalam Ketika Kebaikan Dibuang ini sungguh menggambarkan betapa kejamnya dunia nyata saat seseorang sedang jatuh. Saya jadi ikut merasakan sesak di dada menontonnya.
Tidak sangka akhirnya koper penuh uang itu muncul. Ayah mertua ternyata punya rencana lain untuk menguji kesabaran menantunya. Konflik keluarga yang disajikan sangat realistis dan penuh emosi. Setiap ekspresi wajah pemain utama sangat hidup. Ketika Kebaikan Dibuang berhasil membuat penonton terbawa suasana dramatis yang intens sejak awal hingga akhir.
Penjualan properti itu terlalu jahat menertawakan kantong berisi batu bata. Padahal itu adalah bukti perjuangan suami untuk membeli rumah. Istrinya yang berbaju bunga tampak sangat sedih melihat suaminya dipermalukan. Kejutan alur saat orang tua muncul membawa kejutan tersendiri. Serial Ketika Kebaikan Dibuang ini benar-benar menguji emosi penontonnya sampai batas terakhir.
Ekspresi marah suami saat menghadapi ayah mertua sangat menggelegar. Ada rasa kecewa yang mendalam terlihat dari matanya. Namun di balik itu semua ada cinta besar untuk keluarga kecilnya. Ibu mertua yang awalnya tersenyum kini ikut terbawa emosi. Cerita Ketika Kebaikan Dibuang mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.
Adegan batu bata yang berserakan di lantai menjadi simbol perjuangan yang dihina. Petugas penjualan itu tertawa lepas tanpa peduli perasaan orang lain. Suami berusaha mengumpulkan kembali batu bata itu dengan tangan gemetar. Sangat menyentuh hati melihat perjuangan keras demi sebuah rumah. Ketika Kebaikan Dibuang punya pesan moral yang kuat tentang harga diri manusia.