Ibu itu awalnya tertawa tapi akhirnya menangis. Sangat sedih melihat penghinaan di depan altar kematian. Sosok berbaju putih benar-benar tidak punya hati melempar uang seperti itu. Aku menonton ini dan rasanya ingin masuk ke layar. Kisah dalam Ketika Kebaikan Dibuang sungguh menyentuh hati. Emosi ibu itu sangat nyata sekali.
Sosok berbaju putih itu sangat sombong sekali melempar uang kertas di lantai. Dia tertawa sambil menghina keluarga yang sedang berduka. Untungnya ada yang memberi pelajaran keras kepadanya sampai berlutut. Alur Ketika Kebaikan Dibuang memang selalu bikin emosi penonton naik. Aku suka bagaimana keadilan akhirnya datang.
Pemuda dengan handuk di leher tampak lelah tapi tetap sabar menghadapi provokasi. Dia memunguti uang yang dihinaakan itu dengan tangan gemetar. Rasanya sakit melihat harga diri diinjak-injak seperti sampah di Ketika Kebaikan Dibuang. Adegan ini bikin aku nangis karena terlalu terhubung dengan kenyataan. Sabar memang berat tapi hasilnya manis.
Tamparan dan pukulan itu sangat memuaskan melihat si sombong jatuh terduduk. Sosok berotot itu langsung bertindak saat melihat temannya dihina. Tidak ada kata-kata hanya aksi nyata membela kebenaran. Adegan aksi di Ketika Kebaikan Dibuang ini benar-benar tidak terduga. Aku sampai tepuk tangan sendiri saat menontonnya di layar ponsel.
Sosok berbaju merah hanya bisa menutup mulut karena kaget melihat kejadian itu. Dia sepertinya tidak menyangka kalau situasi bisa menjadi seburuk ini. Ekspresi wajahnya mewakili perasaan kita semua saat menonton. Detail emosi dalam Ketika Kebaikan Dibuang sangat diperhatikan oleh sutradara. Setiap tatapan mata punya makna yang dalam.