Liu Qingyan adalah antagonis yang sangat menyebalkan tapi menarik. Saat dia berjongkok di depan Su Mu dengan senyum meremehkan, rasanya ingin masuk ke layar untuk menamparnya. Dia menikmati setiap detik penderitaan Su Mu. Kostum hijau mewahnya kontras dengan hati yang hitam. Dinamika antara dia dan Song Jingnan juga terasa sangat toksik tapi seru untuk diikuti.
Aktris yang memerankan Su Mu luar biasa dalam mengekspresikan rasa sakit dan keputusasaan. Dari tatapan penuh harap yang berubah menjadi hancur saat melihat Song Yu, semuanya terasa nyata. Adegan dia diseret dan dipukuli benar-benar menyiksa penonton. Namun, ada api kecil di matanya yang memberi harapan bahwa Putri Pemberani Takkan Menyerah akan bangkit nanti.
Momen ketika Song Yu muncul di samping Song Jingnan dan Liu Qingyan adalah pukulan telak bagi Su Mu. Anak itu terlihat begitu nyaman dengan mereka, seolah Su Mu bukan ibunya lagi. Ekspresi bingung dan sakit di wajah Su Mu saat melihat anaknya berdiri bersama musuh-musuhnya adalah puncak dari pengkhianatan emosional dalam cerita ini.
Pencahayaan dan warna dalam adegan eksekusi ini sangat mendukung suasana mencekam. Batu-batu dingin di lantai istana menjadi saksi bisu kekejaman manusia. Kontras antara pakaian mewah para bangsawan dengan pakaian putih kotor Su Mu sangat menonjolkan perbedaan status dan kekuasaan. Detail darah dan luka tata rias juga terlihat sangat realistis dan mengganggu.
Ada potongan adegan singkat yang menunjukkan Su Mu dalam balutan hijau muda yang bersih, sepertinya kilas balik saat dia masih dihormati. Transisi cepat ke kondisi dia yang terluka dan dihina menambah rasa penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi hingga dia jatuh dari posisi mulia menjadi tahanan? Alur cerita Putri Pemberani Takkan Menyerah mulai terungkap perlahan.