Suasana di halaman rumah Hanif Gibran terasa sangat mencekam. Ancaman ketua bandar yang duduk di kerusi roda membuat bulu kuduk berdiri. Namun kehadiran Amri justru mengubah segalanya. Dialog-dialog tajam antara para watak buat penonton ikut emosi. Si Kecil Kung Fu benar-benar jadi penyeimbang di tengah konflik yang memanas ini.
Hubungan antara Amri dan ibunya sangat menyentuh hati. Ketika ibunya dilarang campur tangan, Amri justru tampil membela. Adegan ketika nenek cuba meredakan situasi tapi malah makin runyam buat menggeleng kepala. Si Kecil Kung Fu ini mengajarkan bahawa keberanian tidak mengenal usia. Penonton pasti akan terbawa perasaan melihat perjuangan mereka.
Ketua bandar benar-benar kejam dengan ancamannya menghancurkan rumah warisan. Kalimat-kalimatnya tajam dan penuh intimidasi. Tapi justru di situlah letak kekuatan cerita ini. Penonton dibuat bertanya-tanya apakah Amri mampu menyelamatkan keluarganya. Si Kecil Kung Fu ini mempunyai plot yang tidak terduga dan penuh kejutan di setiap detiknya.
Adegan pedang dalam Si Kecil Kung Fu ini benar-benar memukau. Mulai dari cara Amri memegang pedang hingga aksi menelannya yang buat semua orang terkejut. Detail kostum dan properti juga sangat diperhatikan. Penonton akan merasa seperti berada di tengah-tengah adegan tersebut. Aksi-aksi seperti ini yang membuat siri ini layak ditonton berulang kali.
Konflik antara keluarga Hanif Gibran dengan ketua bandar benar-benar menguras emosi. Setiap watak mempunyai peranan penting dalam membangun ketegangan. Amri sebagai tokoh utama kecil tapi mempunyai dampak besar. Si Kecil Kung Fu ini berjaya menyajikan cerita keluarga yang penuh drama tapi tetap menghibur. Penonton pasti akan ikut merasakan setiap emosi yang ditampilkan.