Kebiadaban Anak Angkat
Putra Lucy, Ray dan istrinya, Helen yang tamak berniat rebut semua aset Lucy. Lucy susun rencana untuk mengelabui mereka, tapi Ray tahu rencana Lucy dan provokasi netizen untuk menyerang Lucy. Dengan bantuan Bella, keponakan Lucy, mereka berdua merilis bukti-bukti kuat untuk semua perbuatan Ray selama ini.
Rekomendasi untuk Anda





.jpg~tplv-vod-noop.image)
.jpg~tplv-vod-noop.image)
Pisau vs Kertas: Pertempuran Tak Terlihat
Setiap irisan wortel oleh Ibu di Kebiadaban Anak Angkat bagai dentuman jam pasir—cepat, pasti, dan tak dapat dihentikan. Sementara Sunyi hanya memegang kertas, diam, menahan napas. Bukan kekerasan fisik, melainkan keheningan yang paling menyakitkan. 🔪📜
Senyum Ibu yang Terlalu Sempurna
Ibu di Kebiadaban Anak Angkat tersenyum setiap kali Sunyi menatapnya—namun matanya tidak ikut tersenyum. Itu bukan kasih sayang, melainkan strategi. Ia tahu Sunyi rapuh, sehingga ia berperan sebagai 'ibu ideal' yang tak boleh salah. Namun, siapa yang lebih lelah? 😶🌫️
Meja Kayu sebagai Panggung Konflik
Meja kayu di Kebiadaban Anak Angkat bukan sekadar tempat duduk—ia menjadi medan perang emosional. Sunyi duduk di kursi tinggi, Ibu berdiri dengan pisau di tangan. Jarak fisik = jarak hati. Dan kita tahu: semakin dekat mereka, semakin dalam luka yang disembunyikan. 🪑⚔️
Ketika Cinta Harus Dipaksa Menjadi Tenang
Sunyi tidak menangis. Ia hanya menelan air mata, menggigit bibir, lalu tersenyum ketika Ibu tertawa. Di Kebiadaban Anak Angkat, cinta bukan tentang kejujuran—melainkan tentang bertahan hidup dalam keheningan. Mereka bukan keluarga, melainkan para aktor dalam drama tanpa naskah. 🎭
Air Mata yang Ditekan di Balik Senyum
Dalam Kebiadaban Anak Angkat, ekspresi Sunyi saat memegang kain lap—matanya berkaca-kaca, bibir bergetar, tetapi tetap tersenyum. Ibu yang sedang mengiris wortel tidak melihatnya, atau pura-pura tidak melihat. Itulah kekejaman halus: cinta yang terlalu lembut menjadi senjata. 🥹 #DramaRumah