Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat
Arman, Dewa Pedang yang menyamar sebagai Tabib Desa, menikah dengan Irma demi menjalani ujian cinta. Selama tiga tahun ia diam-diam melindungi Sekte Pedang Ara, namun dihina dan tak diakui. Saat masa perjanjian hampir usai, rahasia dan ambisi tersembunyi mulai mengguncang segalanya.
Rekomendasi untuk Anda





Dararah di Bibir, Dendam di Hati
Lelaki berbulu abu-abu terjatuh, darah mengalir dari mulutnya—tapi matanya masih menyala penuh amarah. Sementara sang tokoh utama berdiri tegak, pedang berdarah di tangan. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat bukan hanya judul, tapi nasib yang tak bisa dihindari. Setiap detik terasa seperti napas terakhir. ⚔️
Putih vs Hitam: Bukan Warna, Tapi Takdir
Dia berlutut dalam gaun putih bersih, tapi hatinya kotor oleh luka. Dia memegang pedang, bukan untuk menyerang—tapi bertahan hidup. Sang antagonis berjalan pelan, senyumnya dingin seperti es. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat mengajarkan: kadang kebaikan kalah bukan karena lemah, tapi karena terlalu percaya pada cahaya. 🌫️
Energi Merah yang Menghancurkan
Saat energi merah menyala di sekitar tubuhnya, kita tahu—ini bukan lagi manusia biasa. Ekspresi ketakutan di wajah lelaki berbaju gelap itu begitu nyata. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat memadukan aksi dan emosi dengan sempurna. Tiap gerakan punya bobot, tiap tatapan punya cerita. 🔥
Kalung Emas, Jiwa yang Rapuh
Kalung emas di lehernya mengkilap, tapi matanya kosong. Dia berjalan pelan, pedang di sisi, seolah semua sudah ditakdirkan. Wanita berpakaian putih menatapnya—bukan dengan benci, tapi kesedihan mendalam. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat bukan soal siapa menang, tapi siapa yang masih berani menangis setelah segalanya berakhir. 💔
Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat: Senyum Maut di Ujung Pedang
Pria berpakaian hitam dengan sulaman emas itu tersenyum—tapi senyumnya seperti pisau yang menusuk. Di balik keangkuhannya, ada keheningan yang mencekam. Wanita berpakaian putih terjatuh, pedang biru masih digenggam erat meski air mata mengalir. Ini bukan pertempuran fisik, tapi perang jiwa yang lebih kejam. 🩸 #DramaKuno