Tagihan Rp2.100.000 di tangan wanita hitam itu bukan angka—itu detik-detik sebelum ledakan. Semua diam, napas tertahan. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam hanya mengangguk… lalu berjalan pergi. 🍷🔥
Dia memegang tagihan, bibir gemetar, tapi matanya tajam seperti pisau. Apakah dia benar-benar terkejut? Atau ini bagian dari skenario Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam? Renda putihnya terlihat murni—tapi siapa yang percaya pada penampilan?
Dia datang diam, tangan di saku, lalu membuka dompet. Bukan uang—tapi keputusan. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam menatapnya, dan untuk pertama kali, ada keraguan di wajahnya. 🤓💸
Nenek tua memegang tangan cucu kecilnya, pandangan kosong. Mereka bukan penonton—mereka korban tak bersalah dari dendam generasi. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam bahkan tak melirik mereka. Itu yang paling kejam. 👵👶
Setiap langkah Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam di lantai kayu berbunyi seperti jam pasir. Sepatu brogue-nya sempurna, tapi di bawahnya—ada darah lama yang belum kering. 🥿⏳