Saat dia berdiri, ruangan seolah berhenti bernapas. Bukan karena pakaian rapi atau kacamata tipisnya—melainkan karena aura dingin yang menyelimutinya. Di balik senyum tipis itu, tersembunyi rencana yang telah matang. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam memang tidak perlu berteriak untuk menakutkan.
Dia berada di podium, mereka di meja—dua dunia yang saling menatap. Namun, siapa sebenarnya yang benar-benar menguasai ruang ini? Wanita berjas putih itu tampak percaya diri, tetapi pria berrompi krem itu telah lama belajar: diam adalah senjata paling tajam. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam memiliki skenario sendiri.
Kalung bintangnya mewah, namun gelang hitam di lengan pria itu justru lebih menyeramkan. Detail kecil ini mengisyaratkan: ia bukan tamu, melainkan penonton yang sedang menghitung detik-detik. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam selalu memulai dari detail yang dilupakan orang lain 🕵️♂️
Matanya berkedip sekali saat melihat nama 'Li Hongwei' di meja. Bukan karena kaget—melainkan pengakuan. Seperti bertemu musuh lama yang akhirnya ditemukan. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam tidak memerlukan dialog panjang; satu ekspresi saja cukup membuat penonton merinding.
Ia berdiri di sampingnya, wajah tegang, bibir gemetar—namun tangannya tidak goyah. Apakah ia korban masa lalu? Atau justru mata-mata yang dikirim? Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam suka memainkan dualitas: siapa yang benar-benar setia?