Ia menggambar wajah robot di atas kertas putih, tangannya gemetar. Namun Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam tidak memperhatikannya—matanya terpaku pada cangkir susu yang diberikan wanita itu. Sketsa itu bukan rencana, melainkan kenangan yang belum mati. 🖊️🤖
Susunya dingin, darahnya hangat. Wanita dalam gaun merah menawarkan keduanya—satu untuk menyembuhkan, satu untuk mengingatkan. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam meminum susu, lalu diam. Sebab terkadang, balas dendam dimulai dengan menelan pil manis. 🥛🩸
Tangannya di lehernya—lembut, namun jarinya menekan seolah ingin menghentikan detak jantung. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam tidak berteriak. Ia hanya menatapnya, lalu tersenyum tipis. Cinta yang beracun selalu datang dalam balutan sutra merah. 😌🌹
Di belakang mereka, rak buku penuh novel kuno dan foto berbingkai. Namun yang paling mencolok? Patung kelinci putih—simbol kepolosan yang telah lama mati. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam tak pernah membaca buku itu. Ia hanya mengingat halaman terakhir. 📚🐇
Jam tangannya masih berdetak, namun matanya telah berhenti di masa lalu. Wanita berpakaian merah menyentuh pergelangan tangannya—bukan untuk memeriksa waktu, melainkan untuk mengingatkan: kau masih hidup, meski hatimu telah dikubur. Tuan Muda dari Tahun 90-an yang Gila Balas Dendam mengangguk pelan. ⏳🖤