Pria dalam rajut berlian merah itu tersenyum lebar, tetapi matanya kosong. Dia tahu apa yang akan terjadi—dan dia *menikmatinya*. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam datang bukan untuk damai, melainkan untuk balas dendam yang telah direncanakan. 😈
Latar belakang rak buku dan lampu gantung kuno membuat suasana semakin mencekam. Setiap langkah Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam terasa seperti detak jantung yang semakin cepat. Ini bukan pertemuan biasa—ini adalah awal dari badai. 🌪️
Dia masuk dengan gaun merah menyala—seperti darah segar di tengah kekacauan. Ekspresinya campuran kaget dan kecewa. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam tidak menyangka dia akan menjadi saksi bisu... atau justru pemeran utama? 💔
Saat vas dilempar, tangan Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam stabil—tidak panik. Itu bukan reaksi spontan. Ini adalah teater yang telah dipersiapkan. Bahkan pecahan di lantai disusun seperti lukisan tragis. 🎭
Rajut berlian = tradisi, kebohongan manis. Kardigan krem = modernitas, kebenaran yang tajam. Pertemuan mereka bukan soal vas—melainkan siapa yang berhak mengatur masa lalu. Sang Tuan Muda dari Tahun 90-an Gila Balas Dendam telah memilih sisi. ⚖️